Kertas Kosong Punya Cerita
Orientasi
Ada saat-saat di mana kata-kata terasa terlalu sempit untuk mengungkapkan apa yang ada di hati. Di sanalah tanganku menemukan sebuah pensil, dan jari-jariku menari di atas kertas. Bagiku, menggambar bukanlah sekadar membuat gambar, melainkan sebuah percakapan bisu. Setiap goresan adalah pertanyaan, setiap arsiran adalah jawaban, dan setiap sketsa yang terbentuk adalah sebuah cerita yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang melihatnya.
Sejak kecil, aku sudah tertarik dalam bidang seni yaitu menggambar & melukis. Dalam bidang itu aku lebih tertarik ke bidang menggambar karena disana aku bisa membuat imajinasi menjadi cerita, walau kadang jika sudah bingung ingin menggambar apa aku juga memerlukan inspirasi dari media sosial. Menggambar pun menjadi sebagian dari hidupku, cara menyembunyikan kesedihan aku curahkan dengan cara menggambar tidak hanya saat sedih tetapi jika aku tidak ada kerjaan, aku akan mulai menggambar karena jika sudah selesai hasilnya bisa dinikmati&disimpan walau warna nya hanya abu-abu saja,
"Kenapa tidak diwarnai?"
Terkadang, ada kala di mana suatu ciri khas keunikan dapat tercipta dari satu wujud, jika kita menimpa wujud tersebut dengan yang lain, maka akan tercipta keunikan yang baru.
Namun, ciri khas keunikan yang lalu tidak dapat dilihat lagi ketika kita menimpa hal tersebut.
Dan ada pada saatnya aku sudah bosan menggambar, aku mencoba sesekali membuat lukisan pemandangan dengan kertas biasa lumayan tebal dengan ukuran kertas yang kecil dan hasilnya lumayan bagus. Aku tau gambar dan lukisan itu dibuat hanya untuk kesenangan diri sendiri bukan untuk dijual ataupun lainnya.
Komplikasi
Saat itu aku pernah mengikuti lomba mewarnai bukan menggambar karena aku tidak terlalu suka mewarnai dan yang ada pada saat itu lomba mewarnai. Aku mencoba mengikuti lomba tersebut pada saat masih kecil dalam lomba yang pertama aku mengikutinya dengan semangat tidak peduli menang atau kalah. Dalam lomba itu banyak sekali anak kecil yang antusias mengikuti lomba mewarnai itu di temani orang tuanya. Aku mengambil posisi tempat duduk dan bersiap-siap menunggu lomba dimulai. Para orang tua diperintahkan untuk menunggu dipinggir. Saat lomba sudah dimulai, aku berusaha agar mendapatkan hasil terbaik meskipun aku belum pandai mewarnai. Sering kali aku melihat gambar anak disebelahku untuk mengintip sampai mana dia mewarnai itu.
Beberapa jam pun berlalu dan, lomba telah selesai dilaksanakan pengumuman lomba pun akan segera diumumkan, banyak orang yang antusias menunggu siapakah pemenang lomba tersebut. Semua anak-anak, para orang tua dan aku sendiri tidak sabar menunggu siapakah pemenang lomba tersebut. Ada beberapa anak yang berharap untuk menang dan ada juga yang biasa aja, mewarnai bukan passion ku saat itu jadi pasrah saja. Juara 1, 2, dan 3 selesai diumumkan terlihat anak-anak yang memenangkan senang sekali, aku hanya menatap mereka dengan perasaan ingin menang juga tapi apa boleh buat saya tidak seahli mereka, selesai diumumkan dan ya aku memang tidak menang akupun memutuskan untuk pulang dengan perasaan lumayan kecewa.
Resolusi
Dengan seiring berjalannya waktu, aku mulai tumbuh remaja dan mencoba berlatih untuk mewarnai, menggambar, melukis. Aku sedikit demi sedikit asah kemampuan dalam bidang seni rupa yang sejak kecil aku minati. Mulai dari situ minat aku terhadap seni rupa tumbuh kembali, sekarang aku tidak hanya menyukai menggambar saja. Hal-hal yang berbau seni rupa seperti menggambar, melukis, mewarnai aku sukai. Jika aku bosan untuk menggambar aku bisa berlari ke mewarnai jika bosan ke mewarnai aku bisa melukis ada kalanya juga aku mencoba DIY/kerajinan tangan yang simple atau bahkan membuat jurnal aesthetic seperti mencontoh di tiktok atau youtube bahkan teman dengan isi ide aku sendiri.
Saat masi duduk di bangku SMA kelas 12, guruku sangat suka dengan hal-hal yang berbau seni dan ke aesthetic-an. Dan semua anak murid di perintahkan untuk membuat catatan sebagus dan semenarik mungkin, seperti membuat mind mapping berkaitan tentang pelajaran yang sedang dipelajari.
Pada saat itu guru tersebut mengajar dikelasku dan pas sekali disitu ada tugas yang sebelumnya sudah di kerjakan dari jauh hari yaitu membuat soal yang ada permainan ular tangga dengan tema globalisasi, dengan sedikit hiasan agar tampak menarik. Besoknya tugas itu dikumpulkan di meja guru sekalian dinilai oleh guru. Dan saat guru memegang bukuku, wajah guru tersebut seperti terpukau dengan gambar ku itu, guru tersebut bilang bahwa hasilku itu bagus.
"Wahh punya siapa ini, bagus sekali" ujar guru tersebut yang masih terpukau.
"Punya saya Bu" jawabku sambil mengangkat tangan.
Setelah itu semua buku yang dikumpulkan tersebut ditukar dengan teman lain untuk saling menjawab soal yang ada dibuku itu. Selesai menjawab soal dan dinilai oleh guru tersebut, tiba-tiba aku dipanggil maju kedepan untuk berhadapan dengan guru tersebut.
"Kamu mau hadiah apa dari hasilmu yang tadi?"
Aku tersentak kaget, sambil berpikir aku pun bingung harus menjawab apa lalu menjawab seadanya.
"Terserah saja bu, saya ikut" Aku melanjutkan
setelah berdiam diri tidak terlalu lama.
"Kalau makanan dari hokben bagaimana?" tanya guruku dengan antusias.
"Gapapa bu" ujarku dengan malu-malu.
"oke" sahut guruku sembari membuka ponselnya.
Guru tersebut langsung memesankan makanan tersebut saat itu juga. Terlihat teman-teman ku yang lain penasaran apa yang sedang kita bicarakan 4 mata.
Setelah beberapa menit pesanan itu datang dan aku mengambilnya di tempat satpam, lalu memakannya pada saat waktu istirahat. Aku makan dengan perasaan senang dan heran, aku bergumam dalam hati
"Perasaan gambarku ini biasa saja tapi kok bisa guruku terpukau?" sambil terus aku menyuapkan nasi ke mulutku yang perlahan mulai kosong.
Walaupun bagi saya gambar itu terlihat biasa saja, tetapi ada kesan mendalam di baliknya.
Koda
Saat ini aku sudah cukup sibuk untuk memulai itu harus mencari waktu yang luang. Selain itu setahun setelah lulus aku mengalami artblock (kondisi dimana minat/ide hilang hingga muncul keraguan pada diri sendiri). Seiring berjalannya waktu di tengah-tengah perkuliahanku, tidak sengaja aku bertemu dengan teman yang sama-sama suka dengan seni, seni apapun itu. Dilihat dari temanku itu sepertinya dia sangat mahir dengan seni melukis, aku sangat tertarik dengannya dan mulai memamerkan bahwa aku juga suka dengan hal seni rupa. Dari situ muncullah minat saya untuk memulai seni rupa kembali. Aku dan dia kadang suka mengajak untuk sama-sama melakukan hal yang berkaitan dengan seni, hingga saat ini.
Komentar
Posting Komentar