Ekspetasi Beracun

Orientasi
Di balik jendela kaca yang buram oleh embun dan air mata yang tak pernah tumpah, hiduplah seorang anak bernama Lin Jingyi. Ia seorang anak dari keluarga kaya terpandang. Papa-nya (Chen) pemilik perusahaan ternama dan Mama-nya (Mei) seorang desainer muda berpengalaman. Mereka hidup di dalam rumah besar, namun bagi Lin Jingyi itu semua sia-sia. Ia hanya menginginkan hidup sederhana dan disayangi kedua orang tuanya. Sejak usianya masih sekuntum bunga belum mekar, dunianya adalah medan perang mental yang berkecamuk di kepala. Dimana dia dituntut sempurna dalam hal apa pun dan yang paling sering 'tuntutan nilai ujian'.

Badan Jingyi dipenuhi memar. Papanya menjadikan Jingyi kanvas emosi, segala pukulan dan tendangan mendarat ditubuhnya. Semua itu bukan lagi kejutan melainkan rutinitas yang ia dapatkan saat tidak memenuhi keinginan Papa Chen. Terkadang mamanya membentak Jingyi untuk selalu menuruti keinginan Papanya.

"Kenapa nilai Bahasa Indonesiamu 95? Kenapa tidak 100? Dasar anak tidak berguna! Hanya orang sempurna yang patut diakui!" Bentak papanya dengan emosi yang tinggi kata-kata menyakitkan itu diiringi cambukkan ikat pinggang mengukir dendam di jiwa Jingyi.

Walau hatinya penuh dengan warna hitam pekat, tapi rasa sakit yang ia dapatkan tidak dapat dikendalikan.
Ia menangis sesenggukan tak jarang menyeka air mata yang hampir jatuh. 
"Tapi pa. . . aku sudah berusaha sebaik mungkin, semua temanku rata-rata hanya mendapatkan 80 saja, sedangkan aku 95... itu nilai tertinggi di kelas, Pa. . ." Isak Jingyi membela diri.

Papa Chen berdiri di depan Jingyi, sambil menunjuk muka sedihnya, "JIKA SAJA KAMU MENDAPATKAN NILAI 100 PAPA TIDAK AKAN SEMARAH INI!" Tuntut papanya setengah berteriak dengan nada tinggi.

Seolah menyimpan jeritan di balik dinding tebal, Jingyi menatap tajam punggung Papa Chen yang perlahan berjalan meninggalkan dan membelakangi Jingyi tanpa sepatah kata apapun.

Komplikasi
Waktu semakin berlalu, seiring manusia bertambah umur Jingyi tumbuh menjadi gadis cindo populer di SMA anak orang terpandang. Paras cantik, nilai sempurna, dan dia adalah kapten tim debat. Ia adalah definisi sempurna di mata semua orang. Di balik itu semua, diam-diam ia mengenakan topeng kepalsuan atas dirinya sendiri.

Persaingan untuk memperebutkan posisi pemenang lomba debat sangat sengit, Jingyi dengan akalnya yang melenceng dari kata cerdik. Ia menargetkan Xiao Jian, seorang siswi pendiam namun cerdas yang sudah ia targetkan sebelumnya. Jingyi memuji kecerdasannya mendengarkan curhatannya dan bahkan berpura-pura menjadi sahabat karibnya.

Saat itu Lin Jingyi melihat Xiao Jian dari kejauhan, ia mendekati dan mengajak berbicara empat mata di taman sekolah.

"Jian, aku merasa sangat tertekan dengan lomba itu. Rasanya aku akan gagal..." keluh Jingyi dengan nada dan raut wajah yang dibuat-buat. Ia menghela napas dalam kemudian melanjutkan, "Aku hanya merasa aman kalau kamu membantuku. Mungkin... kalau kita berdua tidak ikut, aku merasa tidak tertekan lagi. Aku akan membantumu bilang ke guru kalau kamu sakit." Lanjutnya licik.

Sembari berpikir ia menjawab, "Kamu yakin? Apakah kita akan aman," lanjut Jian khawatir.

Dengan percaya diri Jingyi menimpal,
"Tenang, masih ada teman kita yang lain untuk menggantikan kita kok, lagi pula ini hanya lomba debat yang tidak terlalu penting," sambung Jingyi meyakinkan.

Jian kebingungan sambil melihat sekitar.
"Eumm jika itu benar... Baiklah aku ingin dirumah saja, berpura-pura bahwa aku sakit," tukas Jian senyuman di wajahnya kembali berseri lega. 
"Aku juga akan begitu," sahut Jingyi tersenyum menyerngitkan bibir kiri ke atas percaya akan rencana liciknya berhasil.

Setelah perbincangan kemarin, pagi harinya tim Jingyi dan Jian sudah siap. Beberapa teman satu tim Jian sudah menunggu kehadirannya. Mereka tidak tahu jika di hari itu Jian akan izin. Ibu guru Ming datang dengan membawa kabar bahwa Jian izin tidak mengikuti debat karena sakit, mereka semua terkejut campur kecewa. Jian terpaksa digantikan oleh teman lain yang belum berpengalaman mengikuti debat.

Sementara Jingyi yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka dengan raut wajah sedih supaya meyakinkan. Perasaannya kini bahagia, tidak ada yang lebih unggul dari dirinya.
"Mudah sekali menjatuhkan Jian, padahal dia sangat pandai, seharusnya dia bisa membela dirinya." tutur batin Jingyi sembari tersenyum menghela napas puas.

Debat dimulai.. terlihat betapa unggul debat tim Jingyi dalam membalas setiap argumen tim Jian, debat pun berlangsung sangat sengit kedua tim saling serang dan membela argumen mereka masing-masing. Tim Jingyi lebih unggul, mampu membantah argumen tim Jian. Waktu berjalan cepat, tidak disangka debat pun berakhir sangat dramatis.

Pengumuman pun dimulai, semua orang menghela napas penasaran siapa pemenang nya. Mereka bersaing sangat sengit tetapi hanya ada 1 tim yang akan menjadi pemenangnya.

Juri debat naik ke atas panggung,
"Para penonton semua saya sudah mempertimbangkan dengan hati-hati dan yang mendapatkan skor banyak sekaligus menjadi pemenang adalah.... tim Jingyi." Seru Juri debat dengan suara lantang dan bersemangat.

Ruangan yang lebar dan tertutup itu dipenuhi oleh suara tepuk tangan atas kemenangan tim Jingyi, sementara tim Jian terlihat kecewa.

Tim Jingyi bersorak, "Hore tim kita menang!" secara serentak, mata Jingyi menatap sinis tim Jian, namun diabaikan.

Jingyi melakukan ini semua bukan karena ia jahat, tetapi karena ketakutan ia terhadap Papa Chen yang menuntut untuk selalu sempurna dalam hal apa pun. Jika ada yang lebih baik darinya, ia teringat akan bentakan dan pukulan lagi. Sifat inilah yang menjadi perisai dan senjata satu-satunya untuk memastikan ia selalu berada di puncak, dan hanya dialah yang harus sempurna.

Resolusi
Di tengah tugas-tugas yang menumpuk dan pujian palsu dari teman-temannya, karena niat jahatnya itu Jingyi mulai mengalami serangan panik. Rasa bersalah atas jatuhnya Jian mulai menyelimuti dirinya. Ia mulai berjalan menuju kelas seorang diri, dalam keadaan terkena Panic Attack, dari belakang Guru Konselor Ming yang sudah mengerti rencana jahat Jingyi memanggilnya dengan nada dan muka serius tatapan tajam.

Bu Ming menyusul kecepatan jalan Jingyi.
"JINGYI, tunggu sebentar... kamu tau? kamu bisa menjadi hebat tanpa harus menjatuhkan orang lain," ujar Bu Ming dengan nada yang mulai melembut tanpa menghakimi.

Jingyi hanya tertawa sinis, memalingkan wajahnya. "mereka lemah, Bu. Hanya yang kuat akan bertahan," disisi lain "Bagaimana bisa Bu Ming tau rencanaku selama ini, apakah Bu Ming seorang mata-mata?" gumam Jingyi seolah tak percaya.

"Kamu bicara tentang bertahan atau mengendalikan? manipulasi itu seperti memegang serpihan kaca. Kamu bisa menyakiti orang lain, tapi yang paling terluka adalah tanganmu sendiri, karena serpihan kaca itu milik masa lalumu," sindir Bu Ming dengan muka serius.

Perkataan itu membuat Jingyi terdiam tanpa sepatah kata. Ia teringat rasa sakit dipukul, diabaikan, dibentak dan dipaksa sempurna, seolah mengulang kembali rasa sakit yang ia terima kepada orang lain. Mencoba mencari kendali yang tidak pernah ia miliki. Perlahan ia mengingat semuanya, sikap kasar Papa Chen yang dilakukan kepadanya, air matanya terjatuh, bukan tangisan marah atau sinis, melainkan tangisan seorang anak kecil yang telah lama terkurung.

Bu Ming menawarkan bantuan, bukan untuk hukuman melainkan memulihkan keadaan mental Jingyi yang berantakan. Jingyi menyetujui sesi konseling rutin. Meskipun tidak langsung membaik tetapi perlahan-lahan belajar bahwa validasi diri tidak ditemukan dalam kendali, melainkan menerima ketidaksempurnaan.

Koda
Jingyi tidak berubah, menjadi baik begitu saja, dalam dirinya masih ada dorongan untuk berbohong dan mengendalikan. Namun, kini ia mengerti saat dikendalikan dan dibohongi sangat menyakitkan dan memilih untuk berhenti.

Siangnya, Jingyi bertemu dengan Jian. Jingyi mengajak Jian untuk mengobrol di taman belakang sekolah. Mereka duduk berdua, tanpa disadari Bu Ming tidak sengaja melihat mereka dari kejauhan, dalam hati sambil menghela napas, "Semoga, Jingyi sadar dan Jian mau memaafkan," batin Bu Ming dengan langkah masuk ke ruang guru.

Dengan perasaan campur aduk Jingyi memberanikan diri, "Jian... Aku minta maaf. Aku memerintah untuk tidak masuk bukan tanpa alasan, aku melakukan itu karena aku membutuhkan kemenangan untuk membuktikan bahwa aku berharga, bisa segalanya dan dianggap sempurna, selain itu untuk Papa Chen dan Mama Mei agar aku tidak dipukul dan dibentak lagi." Ia menghindari kontak mata, memandang ke bawah sambil memainkan ujung bajunya.

Meskipun Jian tidak sepenuhnya mengerti, sambil berpikir, "e-engga apa-apa kok, lagi pula kemarin saat aku tidak ikut debat, sebenarnya aku juga agak pusing dan sekarang baru lebih baik dari kemarin sih. Hehe," tuturnya dengan senyum dan tangan melambai cepat menandakan tidak apa-apa.

Jingyi sedikit lega, namun perasaan tidak enak menyelimutinya. Akhirnya Jingyi dan Jian baikan, Mereka kembali berteman baik seperti awal bertemu.

Puncak kesadaran ketika ia memilih untuk bercerita jujur dengan orang tuanya tentang perasaan yang selalu dipaksa sempurna. Tentu saja, itu hanyalah sia-sia yang keluar dari mulut ayah nya justru bentakan dan cacian. Mamanya menenangkan Papanya sementara dirinya menenangkan diri sendiri. Ia menyadari bahwa tidak bisa mengendalikan orang tua yang menuntut anak sempurna.
Hati Jingyi terlanjur tergores akibat tuntutan orang tuanya. Ia hanya ingin dimengerti perasaannya, tanpa ia sadari air mata mengalir membasahi pipi, dalam keheningan, bingung apa yang harus dilakukan keadaan selalu menghajar pikiran dan hati meski ia tau hubungan dengan kedua orang tua, terutama Papa, akan memburuk. Ia berlari dan mengurung diri dikamarnya.

Matanya memandang sekitar, memastikan sendiri dikamar, ia menangis dengan suara lirih, bersandar di dinding, menekukkan kaki, dan menyilangkan kedua tangan di depan kepala, mencoba menahan kesedihan.

“Papa tidak pernah menjadi cinta pertamaku, sebab Papa adalah orang pertama yang mengenalkan rasa sakit dan menorehkan luka di hidupku,” ucapnya dalam hati sambil terisak.

Jingyi masih merasa sendirian dan rentan, dan ia tahu orang tuanya mungkin tidak akan pernah memberinya cinta yang ia butuhkan. Kini ia berjuang untuk jujur kepada dirinya sendiri, sebuah perjuangan yang lebih sulit daripada manipulasi, tetapi ia berusaha agar hal itu tidak diulangi kembali. Jingyi telah sadar ia tidak bisa mengendalikan cinta orang tuanya, tetapi ia bisa mengendalikan bagaimana ia mencintai dirinya sendiri dalam memperlakukan orang lain.


Komentar